Minggu, 14 Juli 2013

SEJARAH PERKEMBANGAN HOTEL



Hotel Indonesia (dulu)

Hotel berasal dari kata hostelyang mempunyai arti “tempat penampungan bagi pendatang yang juga menyediakan makanan dan minuman”, konon diambil dari bahasa Perancis kuno. Bangunan publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17.  

Dahulu di Inggris dan Amerika,  pegawai hotel  mirip dengan pegawai negeri alias abdi masyarakat. Tapi, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu yang menginap dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah.

Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah.
Sampai pada tahun 1793, saat City Hotel dibangun di  kota New York. City Hotel itulah pelopor pembangunan penginapan gaya baru yang lebih fashionable.
 Sebab, dasar pembangunannya tak hanya mementingkan letak yang strategis. Tapi juga pemikiran bahwa hotel juga tempat istirahat bagi para tamunya.

Minggu, 30 Juni 2013

WISATA MUSEUM YOGYAKARTA




MUSEUM SONOBUDOYO


Museum Sonobudoyo terletak di jalan Trikora No. 6 Yogyakarta, berseberangan dengan alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.  Cikal bakal berdirinya museum ini adalah Java Institut, yaitu sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok yang didirikan di Surakarta pada tahun 1919 dengan tugas pokok kegiatannya membantu kegiatan pelestarian dan pengembangan kebudayaan pribumi (de insheemsche cultuur) yang mencakup wilayah Jawa, Madura, Bali dan Lombok.

Tanah untuk bangunan museum merupakan hadiah dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan dimulai dengan pembangunan pendapa kecil dengan candra sengkala "Buta Ngrasa Esthining Lata" yang bermakna tahun 1865 Jawa atau 1934 Masehi.   Peresmian museum ini dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tanggal 6 Nopember 1935 dengan candra sengkala " Kayu Winayang ing Brahmana Budha", yaitu angka tahun 1866 Jawa atau 1935 Masehi.

Bangunan gedung museum direncanakan oleh Ir. Th. Karsten serta pengawas dan penasehat Ir.L.J. Moens di atas tanah seluas 7.867 meter persegi.

Koleksi museum berjumlah kurang lebih 43.263 buah dan diklasifikasikan dalam 10 jenis koleksi, yaitu: koleksi Geologika, koleksi Biologika, koleksi Etnografika, koleksi Arkeologika, koleksi Historika, koleksi Numismatika/Heraldika, koleksi Filologika, koleksi Keramologika, koleksi Seni Rupa dan koleksi Teknologika.

Fasilitas yang mendukung antara lain perpustakaan, gedung pertemuan, mushola, pagelaran wayang kulit durasi singkat setiap malam, tempat parkir kendaraan dan toilet.

MUSEUM DIRGANTARA MANDALA

Museum ini diresmikan tanggal 4 April 1969  di jalam Tanah Abang, Bukit Jakarta oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Rusmin Nuryadin.  Bulan Nopember 1977 dipindahkan dan digabungkan dengan museum Ksatrian AAU (Akademi Angkatan Udara) di pangkalan Adi Sucipto Yogyakarta.  Tanggal 29 Juli 1978 diresmikan sebagai museum pusat TNI AU "Dirgantara Mandala".  Tahun 1984 museum dipindahkan ke Wonocatur, tepatnya ke sebuah gedung bekas pabrik gula yang dibangun semasa penjajahan Belanda.

Memasuki usia ke-35, Museum Pusat TNI AU "Dirgantara Mandala" telah memiliki koleksi sejumlah 10.000 buah, 36 pesawat terbang, 1.000 foto, 28 diorama, lukisan-lukisan, tanda kehormatan, pakaian dinas, dan sejumlah koleksi buku yang disimpan di perpustakaan.  Koleksi master piece adalah replika pesawat Dakota VT-CLA milik perusahaan penerbangan India yang ditembak jatuh di daerah Ngotho, Bantul oleh Belanda ketika hendak mendarat di Maguwo Yogyakarta.

Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, museum ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti:  perpustakaan, auditorium, tempat parkir, mushola dan toilet.

MUSEUM LUKIS AFFANDI

 Museum yang terletak di jalan Laksda Adi Sucipto 167 ini memiliki 3 gedung ruang pameran.  Pada tahun 1962 Affandi membangun gedung ruang pameran pertama untuk memamerkan karya-karyanya.  Pada tahun 1974 diresmikan oleh Dirjen Kebudayaan Prof. Ida Bagus Mantra.  Ruang pameran kedua dibangun atas bantuan pemerintah tahun 1987 dan diresmikan tanggal 9 Juni 1988 oleh Mendikbud Prof. Fuad Hasan.  Sementara ruan pameran ketiga dibangun oleh Yayasan Affandi tahun 1997 dan diresmikan tanggal 18 Mei 2000 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.  Konsep dan desain bangunan yang menyerupai lembaran daun pisang dibuat sendiri oleh Affandi yang terinspirasi dari pengalaman masa kecil.

Affandi yang mendapat julukan "Pelukis Maestro" tingkat dunia mempunyai koleksi sebagian besar berupa lukisan kertas, cat air, pastel dan cat minyak sejumlah sekitar 300 buah.  Affandi juga mengoleksi lukisan karya teman-teman seprofesinya, seperti lukisan Sudjojono, Hendra Gunawan, Barli, Muchtar Apin, Popo Iskandar dan lain-lain.  Koleksi lain museum Affandi adalah sedan Mitsubishi Gallant tahun 1975, sepeda Reliegh tahun 1975, lukisan keluarga milik maryanti, Kartika, Rukmini, Juki Affandi dan sebagainya.

Museum Affandi memiliki beberapa fasilitas antara lain: galeri, sanggar, kolam renang, kafe, perpustakaan, toko souvenir, tempat parkir dan toilet.

MUSEUM BATIK YOGYAKARTA

Sebagian koleksi di Museum Batik

 

Museum Batik terletak di jalan Dr. Sutomo No. 13 Yogyakarta.  Museum ini berdiri atas prakarsa bapak Hadi Nugroho sekeluarga yang merasa tergugah ketika banyak wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara mencari barang-barang antik, khususnya batik.  Kemudian beliau memulainya dengan mengumpulkan koleksi dari tiga generasi; eyang, orang tua dan beliau sendiri.

Keluarga Hadi Nugroho adalah keturunan pengusaha batik jaman dahulu sehingga banyak barang-barang yang mash tersimpan denga baik, diantaranya peralatan membatik, bahan-bahan batik dan kain batik. Barang-barang ini kemudian dikumpulkan dan dijadikan koleksi pribadinya.

Museum batik didirikan pada tanggal 12 Mei 1977, dengan akta notaris No. 22 tanggal 25 Mei 1977 dan pejabat pembuat akte Daliso Rudianto, SH.

Bangunan Museum Batik Yogyakarta menempati areal seluas 400 meter persegi.  Luas tanah seluruhnya 600 meter persegi, merupakan rumah tinggal keluarga Hadi Nugroho.

Koleksi yang dimiliki beranekaragam kain panjang, sarung, selendang, tokwi/taplak tutup meja sesaji dan sebagainya.  Disamping itu ada bermacam-macam peralatan membatik.  Koleksi tertua dari museum ini berupa kain batik yang diproduksi tahun 1780.

Dalam perkembangannya selain benda-benda koleksi di atas juga terdapat koleksi karya sulan acak buah karya ibu Dewi Nugroho.  Karya sulaman ini dibuat ketika beliau merawat suaminya (Hadi Nugroho) saat sedang sakit.  Semua karya sulam acak ini dipamerkan di ruang sulaman yang berada di komplek Museum Batik Yogyakarta.



Sumber:  Barahmus DIY. Selayang Pandang. 2004. Yogyakarta



Sabtu, 15 Juni 2013

BERPRESTASI DI SEKOLAH

MENJADI JUARA KELAS

Waktu masih berada di tingkat sekolah dasar kita sering ditanya guru kita, "apa cita-citamu?", jawaban yang muncul dari pertanyaan itu juga akan beragam.  Ada yang menjawab jadi guru, pilot, dokter, polisi, tentara, pengusaha sukses dan seterusnya. Dari berbagai jawaban ini secara tidak langsung telah anggapan di masyarakat umum bahwa ukuran kesuksesan seseorang dilihat ketika dia berhasil meniti karier menjadi pegawai dan berapa banyaknya materi yang dia kumpulkan.  Memang untuk menjadi orang kaya tidak selalu harus berprestasi ketika sekolah juga tidak harus  menjadi juara kelas, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa untuk beberapa profesi tertentu dibutuhkan sebuah keahlian yang memang biasanya hanya orang-orang yang berprestasi di bangku sekolah yang bisa mencapainya.  Memang benar, ada juga juara kelas yang setelah lulus nganggur, tetapi lebih banyak dijumpai juara kelas yang setelah lulus sukses jadi pegawai dan kariernya bagus.

Biasanya anak sekolah yang tidak ingin jadi juara kelas didominasi oleh rasa malas dan kurang motivasi, misalnya tidak mau capek-capek belajar, tidak mau terbebani tugas-tugas di sekolah, penginnya selalu nyantai.  Mungkin mereka belum tahu manfaat jadi juara kelas. Banyak sekali manfaat yang bisa kita raih dengan juara kelas, antara lain:
  1. Orang tua pasti senang dan bangga melihat anaknya juara kelas.  Kita juga akan bahagia bisa membuat orang tua senang dan bangga pada kita.
  2. Guru dan teman-teman pasti akan senang dengan juara kelas.
  3. Orang yang mempunyai ilmu dan berprestasi akan lebih terhormat dan dihargai orang lain.
  4. Juara kelas bisa mendapatkan kesempatan emas, misalnya; beasiswa, masuk sekolah favorit tanpa tes, diterima bekerja tanpa tes, mengikuti berbagai lomba, dan sebagainya.
  5. Juara kelas biasanya adalah remaja yang energik, dinamis, bertanggung jawab dan hidupnya lebih bermakna.
Yakinlah, tidak ada ruginya jadi orang pinter. Pada saat kita dapat peluang atau kesempatan pergunakan sebaik-baiknya, tentunya dalam hal yang baik.  Tumbuhkan motivasi, karena motivasi akan memacu kita berfikir melebihi orang lain, motivasi juga akan mendorong kita bekerja melebihi orang lain.  Hasil motivasi adalah keberhasilan. Kalau bisa jadi yang terbaik, kenapa tidak????!!!!





Sumber: Majalah Jejak, Edisi Juni 2013

Minggu, 07 April 2013

ASAL-USUL NAMA "BALI"

Tiga buah nama untuk pulau Bali yang berhasil ditemukan dalam prasasti-prasasti sampai pada saat ini adalah nama-nama: Wali, Bali dan Banten.
Sebutan "Wali" untuk pulau Bali ditemukan dalam prasasti-prasasti Blanjong (di daerah Sanur, Denpasar) yang bertahun Saka 835 (913 Masehi).   Nama Wali itu ditemukan dalam kaitannya dengan kata-kata dalam prasasti tersebut yang berbunyi .......Walidwipa.......Pulau Bali.  Kata Wali yang berasal dari kata Sansekerta berarti "persembahan" dalam bahasa Inggris disebut "offering".

Pada tahun Saka 905  yakni tujuh puluh tahun setelah ditulisnya kata Wali untuk nama pulau Bali dalam prasasti Gobleg, Pura Desa II.  Dalam prasasti ini ditemukan kata-kata .......siwyan....... dini di Bali ......... yang artinya "dihormati disini di Bali".   Nama Bali untuk pulau Bali ditemukan  pula dalam prasasti Raja Jayapangus antara lain dalam prasasti Buahan D (1103 Saka) dalam kaitannya dengan kata-kata yang berbunyi, ..........pinaka pangupajiwaning jiwa-jiwa wardhana ring Bali Dwipa, ......................... yang artinya " merupakan sumber penghidupan demi pertumbuhan setiap penduduk di pulau Bali.

Nama untuk pulau Bali yang ketiga adalah "Banten".   Nama Banten untuk pulau Bali pertama kali ditemukan dalam prasasti Tengkulak A yang bertahun Saka 945 (1023 Masehi) dalam kaitannya dengan kata-kata dalam prasasti ..........siniwi ring desa Banten .......... yang artinya adalah dihormati di pulau Bali.  Sebutan Banten ditemukan pula dalam kaitannya dengan nama salah seorang Raja Bali Kuna yang ditemukan dalam prasasti Langgahan yang bertahun Saka 1259 (1337 Masehi).  Raja Bali Kuna ini bernama Paduka Bharata Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten yang dapat diartikan, raja ibarat delapan dewa (penguasa arah mata angin) sebagai permatanya pulau Banten.

Jika ditinjau dari sudut bahasa ketiga nama untuk pulau Bali yakni Wali, Bali dan Banten, itu memiliki bentuk atau nama yang sama.  Kata Wali dan Bali memiliki bentuk dan makna yang sama dalam bahasa Bali. Bunyi W dan B dalam bahasa Bali adalah berkorespodensi (memiliki kepadanan).  Contoh lainnya terdapat dalam sejumlah kata-kata bahasa Bali, seperti Waruna dengan Baruna (Dewa penguasa laut), weringin dengan beringin, Wyasa dengan Byasa (Nabi Hindu), Wanwa dengan Banwa yang artinya perahu, kapal seperti nama pelabuhan Benoa di Denpasar yang berasal dari kata Banwa, Wali dengan Bali.  Keduanya memiliki wujud dan makna yang sama, memiliki arti "persembahan".

Jika kata Wali dan Bali memiliki wujud dan makna yang sama, maka kata Bali dengan Banten, memiliki makna yang sama.  Bentuk halus dari kata Bali adalah Banten.  Cara pembentukan bentuk halus dalam bahasa Bali semacam yang demikian itu dapat disejajarkan dengan bentuk-bentuk lain seperti kata sari dengan santen (sari), negari dengan negantun (negara), sesari dengan sesantun (isi), inti dari persembahan, kari dengan kantun (masih).

Makna yang terkandung dalam kata Wali diatas sesuai dengan kenyataan yang terdapat dalam masyarakat Hindu di Bali.  Umat Hindu di Bali mendekatkan diri kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dengan jalan melaksanakan Krama Marga yakni mendekatkan diri ke Penciptanya dengan jalan melakukan upacara-upacara yang menggunakan sesajen atau banten, persembahan.

Selan itu dalam Babad Arya Wang Bang Pinatih menyatakan Pulau Jawa dan Pulau Bali masih satu daratan memanjang yang menurut penulis asumsi kata panjang artinya dawa, dan nama pulau Jawa mirip dengan nama pulau Dawa karena memanjang (satu daratan).  Sekembalinya Mpu Siddhimantra dari lawatan beliau ke Bali untuk mencari putranya Ida Manik Angkeran dan dengan sarana tongkat saktinya pulau Bali dipisahkan dengan pulau Jawa yang kemudian adanya Segara Rupek yang sekarang disebut Selat Bali.

Sumber:  Bangli, I.B. Mutiara Dalam Budaya Hindu Bali (Pedoman Guide).2005. Paramita. Surabaya.